Tuesday, February 23, 2010

HANYA BERKONGSI

Hukum Perayaan Maulidurrasul

Merayakan peringatan maulid tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW, begitu pula para sahabat yang mulia, tabi'in dan tabi'it tabi'in. Tapi kegiatan yang berbentuk perayaan ini muncul di masa berikutnya(masa Fathimiyyin, di Mesir) yang sangat jauh dari masa Rasul. Dari sini muncul keraguan, apakah perbuatan ini termasuk bid'ah atau tasyabbuh (meniru orang-orang kafir). Sabda Rasulullah SAW:

"Barang siapa yang membuat sesuatu tanpa didasari perintah dari kami, maka perbuatan tersebut tertolak".(HR. Bukhari-Muslim)

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan lafaz:

"Barangsiapa yang membuat sesuatu(perbuatan baru) tanpa didasari perintah dari kami, maka perbuatan itu tertolak".

Makna bid'ah adalah perbuatan yang dilakukan seseorang dengan niat beribadah dan bertaqarrub kepada Allah SWT tapi tanpa didasari oleh dalil syara'. Agar ibadah dikatakan benar, maka wajib bersandar kepada sesuatu yang diperintahkan Allah, juga sesuatu yang dilakukan oleh seorang hamba(muslim) harus sesuai dengan perintah Allah, berniat hanya ta'at dan taqarrub kepada Allah tapi dengan cara yang tidak pernah disyari'atkan oleh Allah maka hal ini disebut bid'ah. Perbuatan tersebut tidak mendekatkan seseorang kepada Allah, namun mendekatkannya kepada neraka. Imam Asy -Syaukani dalam kitab Nailul Authar,Jilid II hal 89 berkata: "Apabila anda mendengar seseorang berkata, "Ini adalah perbuatan bid'ah hasanah', maka Anda harus mendudukkan perbuatan tersebut dalam larangan hadits di atas yang bersifat komprehensif atau hadits-hadits yang serupa, seperti:

Dalam sahih Muslim daripada Abi Qatadah al-Ansari berkata: Nabi (s.a.w.) telah ditanya tentang puasa pada hari Isnin lalu baginda bersabda:³Di hari tersebutlah aku dilahirkan dan di hari tersebut jugalah aku diutuskan.Dan hendaklah kamu menjauhi perkara-perkara yang diada-adakan , kerana setiap yang diada-adakan itu adalah bid'ah , dan setiap bid'ah itu adalah sesat. [Diriwayatkan oleh Imam Abu Daud]

Dalam hal ini, kita kembalikan pertanyaan tersebut kepada orang-orang yang merayakan Maulid Nabi Besar Saw atau yang membaca kitab-kitab maulid: apakah mereka melakukannya dengan niat beribadah dan bertaqarrub kepada Allah atau bukan?

Sebagaimana kita ketahui bahawa seluruh aktiviti ibadah bersifat taufiqiyyah(telah ditentukan caranya oleh Allah SWT), dengan kata lain tidak boleh menambah dan mengurangi sesuatu, malah wajib mengikuti dalil syara'. Melampaui batas-batas tersebut termasuk kategori bid'ah.

Adapun tasyabbuh bil kuffar (meniru perbuatan orang kafir), pernah diperbolehkan pada masa awal Islam, kemudian Allah melarang Rasul melakukannya. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abi Ma'mar, ia berkata:

"Sesaat kami bersama-sama Ali ra, kemudian lalu (iring-iringan) jenazah (seorangYahudi). Lalu beberapa orang berdiri memberi hormat, berkata Ali, 'Siapa yang membei fatwa kepada kalian untuk melakukan hal itu?' mereka menjawab, "Abu Musa". Berkata Ali, sesungguhnya Rasul melakukannya hanya sekali. Beliau dulu pernah meniru Ahli Kitab, kemudian setelah dicegah beliau menghentikannya."

Secara umum, peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dilakukan sebagai sikap taqlid dan menyerupai orang-orang Nasrani serta meniru mereka. Sebab orang-orang Nasrani merayakan hari Natal bagi Isa as. Kebiasaan ini membangkitkan ghairah/semangat kaum muslimin di masa kemundurannya, sehingga mereka berkata, "Nabi Muhammad SAW lebih utama dari Isa as mengapa mereka boleh memuliakan Isa dan kita tidak boleh memuliakan Nabi Muhammad SAW?". Dengan analogi yang salah ini dan tidak bersandar kepada syara', mereka membolehkan dan menganggapnya baik untuk diadakan. Bagi orang yang melakukan hal ini berdasarkan analogi tadi maka sesungguhnya mereka telah terjerumus ke dalam perbuatan yang haram, kerana mereka melakukan perbuatan yang menyerupai dan meniru orang-orang kafir.

rujukan:

www.islam-qa.com
www.islamonline.com
http://www.surau.ladang.net/
http://islam.tc/ask-imam/index.php
www.bicaramuslim.com

ps:hanya ulasan drpd sumber hadis dan sejarah islam.selebihnya trletak pd fahaman sndri utk meneruskn atau tidak.wallahualam.